jogja
Monday, March 24th, 2008
NGAYOGYAKARTA Hadiningrat adalah nama yang dipilih Pangeran
Mangkubumi-seorang bangsawan Mataram-untuk kerajaan baru yang
didirikannya pada tahun 1755. Pangeran itu mendapatkan daerah selatan
Jawa ini berdasarkan Perjanjian Giyanti (1755), yang membagi Kerajaan
Mataram menjadi dua, yaitu Kasunanan Surakarta dan Kasultanan
Yogyakarta. Mangkubumi sendiri kemudian memakai gelar Sultan Hamengku
Buwono I.Menurut Babad Giyanti, proses pemecahan Mataram itu penuh
dengan intrik politik antarbangsawan di mana terjadi pula beberapa aksi
kekerasan. Konon, latar belakang semacam inilah yang membuat Pangeran
Mangkubumi memilih nama Ngayogyakarta Hadiningrat sebagai nama
esultanannya. Nama itu menggambarkan sebuah daerah yang aman dan tenteram.
***
OGYAKARTA memang kemudian tumbuh sebagai kota yang kaya akan budaya dan kesenian
awa. Ini tidak mengherankan, karena lingkungan kota seluas 32,5 kilometer persegi itu
ikelilingi oleh daerah yang subur. Hasil pertaniannya yang berlimpah telah mampu memberi
enghidupan yang layak bagi warganya. Dan situasi semacam itu merupakan suasana yang
ondusif untuk berkesenian.
ionir dan titik sentral dari kesenian serta budaya masyarakat Yogyakarta adalah kesultanan.
eragam kesenian Jawa klasik, seperti seni tari, tembang, geguritan, gamelan, seni lukis, sastra
erta ukir-ukiran, berkembang dari dalam keraton dan kemudian menjadi kesenian rakyat.
ari sisi budaya semacam ini, sosok Sultan Yogyakarta kemudian diyakini sebagai pembawa
ezeki. Rakyat Yogyakarta, misalnya, tidak pernah melewatkan tradisi ngalap berkah atau
encari berkah dari gunungan tumpeng nasi beserta lauk pauknya yang diberikan oleh Sultan
ada upacara gerebeg.
esatuan budaya dengan kehidupan masyarakat inilah yang di kemudian hari menjadi dasar bagi
erekonomian kota kesultanan itu. Yogyakarta, yang berpenduduk 395.604 jiwa itu, seakan juga
dak pernah kehabisan seniman-seniman handal.
aya kreasi mereka selalu tertampung dalam berbagai festival yang digelar tiap tahun, seperti
estival Kesenian Yogyakarta (FKY), Festival Gamelan, dan bahkan berbagai festival seni yang
elibatkan siswa sekolah. Festival-festival itulah yang membuat banyak wisatawan nusantara
aupun mancanegara mengunjungi Yogyakarta.
ebagai kota yang sarat dengan kebudayaan, Yogyakarta telah pula menjadi Daerah Tujuan
isata (DTW) utama di Indonesia. Kota itu hanya kalah bersaing dengan Pulau Bali. Dari tahun
e tahun-kecuali dua tahun setelah krisis moneter 1997-jumlah wisatawan nusantara maupun
ancanegara terus bertambah. Untuk tahun 2000, misalnya, jumlah wisatawan yang berkunjung
e Yogyakarta telah mencapai 1,63 juta orang.
rogram pariwisata Kota Yogyakarta sendiri memang selalu dikaitkan dengan daerah sekitarnya,
eperti
Candi Borobudur, Candi Prambanan, wila-yah Kaliurang di lereng Gunung
Merapi, Pantai Parang Tritis, atau Goa Selarong tempat persembunyian
Pangeran Diponegoro. Namun, tetap
saja, daya tarik kota itu sebagai obyek wisata adalah khasanah arsitektur kuno, seperti kompleks
Keraton dan Puro Pakualaman, Istana Air Tamansari, serta berbagai museum.
Sebagai sebuah industri, pariwisata memang melibatkan banyak sektor ekonomi lainnya, seperti
sektor industri jasa hotel dan restoran, pengangkutan dan komunikasi, keuangan, sewa dan jasa
perusahaan, serta kerajinan dan perdagangan.
Kontribusi sektor-sektor itu dalam Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) mencapai 79,5 persen
dari seluruh kegiatan perekonomian masyarakat Yog-yakarta. Kota itu misalnya-menurut data
tahun 1999-memiliki 23 hotel bintang dan 229 kelas melati yang keseluruhannya mampu
menampung penginap untuk 700.000 orang. Sementara tahun 1999 itu juga, PDRB per kapita
Yogyakarta adalah Rp 5,8 juta, lebih tinggi dari rata-rata nasional yang Rp 5,5 juta.
***
SALAH satu kekayaan lain dari Yogyakarta adalah sekolah. Sejak berdirinya Universitas Gadjah
Mada tahun 1949, kota ini memang dikenal sebagai kota pelajar. Ribuan siswa dan mahasiswa
berdatangan dari luar kota-bahkan dari luar pulau Jawa-untuk menempuh pendidikan di kota itu.
Walaupun kini Yogyakarta tidak lagi memiliki perguruan tinggi negeri, karena UGM berada di
Kabupaten Sleman, tetapi julukan sebagai kota pelajar masih tetap dialamatkan kepadanya.
Kota ini masih memiliki 47 perguruan tinggi, mulai dari tingkat akademi, institut, sekolah tinggi,
maupun universitas, dengan jumlah mahasiswa mencapai 86.000 orang.
Subsektor pendidikan ini merupakan salah satu penyumbang dari sektor jasa yang nilainya
mencapai Rp 568 milyar.
Keberadaan perguruan tinggi dengan mahasiswa memberi keuntungan tersendiri bagi
masyarakat, terutama yang berada di sekitar kampus-kampus. Berbagai usaha yang berkaitan
dengan kehidupan mahasiswa bermunculan, seperti pemondokan, kedai makan, atau toko-toko
buku. Usaha itu kebanyakan diusahakan oleh masyarakat setempat.
Memang, harus diakui bahwa Yogyakarta bukan kota industri manufaktur. Hampir semua usaha
ekonominya berbasis pada inisiatif rakyat. Merekalah yang menjadi motor penggerak
perekonomian. Kesadaran inilah yang sedang diupayakan Pemerintah Kota, secara khusus agar
industri pariwisata dikembalikan sebagai usaha bersama masyarakat.
Pencanangan "Pariwisata dan Kesenian Peduli Rakyat" awal Januari tahun 2000 tampaknya telah
menjadi pegangan pengembangan potensi yang ada. (Yoseptin Titien/Litbang Kompas )